TELAGA KECIL Di HUTAN PINUS
#Telaga kecil di hutan pinus....
"Bund, hpnya bisa kirim sekarang ya."
"Siap!" jawabku semangat.
Semangatlah, kan dapat duit...he he.
"Deg!!"
Ini sudah maghrib, dan lokasinya betul betul aduhai.
"Kak, gimana nih?"
"Lanjut Mah," jawab anakku.
Kupacu motor, melewati hutan pinus, melewati jembatan *tangis dan kedung/telaga kecil yang katanya angker kalau malam hari.
Beberapa motor msih kujumpai di sepanjang jalan. Jadi aku santai ....
Setelah cod dengan yang pesan hp, aku pun pulang. Kebetulan ada motor yg lewat ke arah yang sama. Tergesa ku ikuti laju motornya, tapi ahhh.....
Kecewaku membuncah.
Di batas perkampungan akhir, motor itu balik arah. Aku termangu.....
"Ma, biar kakak yang nyetir," bisik anakku.
Sekilas cerita tentang jembatan tangis dan telaga itu menyeruak.
"Sering loh, di jembatan itu terdengar tangisan, dan ada perempuan cantik di sana, " kata wali muridku suatu pagi.
"Krossaakkk!!!"
"Ma," ...
"Tetap fokus ke depan Kak," bisikku mulai was was.
Dan, seekor tikus hutan kulihat berlari dari semak belukar, berhenti tepat di tengah jalan raya, dengan mata merah berkilat.
Hingga kami pun lewat, tikus itu tetap tak beranjak. Entahlah itu tikus beneran atau bukan. Aku enggan memikirkannya.
Tibalah di jembatan tangis, kubaca ayat kursi, An-Nas berulang ulang.
Anakku memacu motor dengan kencang, diantara hutan pinus yang gelap gulita. Aku berharap bisa berpapasan dengan motor lain, tapi sia sia.
"Wussss......" sekelebat bayangan lewat.
Aku tak peduli.
"Wuss...wusss...."
Beberapa bayangan melintas dari pohon ke pohon. Aku melirik sekilas. Untunglah anakku tidak menyadarinya, hingga ia fokus ke jalan.
Plong, ...terlewati jembatan tangis.
"Hmm segitu saja, " pikirku dalam diam.
Tapi beberapa menit kemudian adrenalinku berpacu lagi ketika harus melewati telaga kecil yang terletak hampir di ujung hutan pinus.
Lima ratus meter menjelang telaga, kudengar samar suara anak-anak yang bercanda ceria.
"ha ha hi hi hhha hhiii"
"tok tak tok tak tok tak"
Seperti suara bambu yg dipukul pukul.
Suara kecipak air pun terdengar. Bagaimana mungkin di malam gelap begini ada anak-anak bermain di telaga....
"Ma...., motornya melambat sendiri", suara anakku bergetarrr hebat.
"Lampunya mati!!" teriak anakku histeris.
Lidahku kelu, jemariku spt mati rasa....
"Klekk....klekk....klekkk".
"Ma.....mesin motor mati," kata anakku dengan parau.
Aku menelan ludah dengan susah payah.
Kugenggam erat tangan anakku yang dinginnya seperti es. Aku harus kuat demi anakku.....bisikku dalam hati.
"Ma, kita jangan kalah dengan tuyul tuyul itu," bisik anakku dengan suara yang terdengar seperti menangis.
Aku tahu, ia berkata begitu untuk menguatkan hatinya.
Kenyataannya, tubuh kami bergetar hebat, bahkan untuk berbicara saja sulitnya minta ampun.
Sementara itu suara-suara itu makin terdengar jelas, karena lokasi motor berhenti hanya berjarak beberapa meter dari telaga itu.
"Tak tok tak tok tak tok....ting tang tung
Hhha hhhihi....prokk prokkk!!!"
"Ciluuuuukkkk.....bakkk...ahahhha hihhhi"
Mataku berusaha menyibak kegelapan malam, mencoba melihat apa yang terjadi di telaga itu. Tapi hanya gelap dan gelap....
"Mama...ma, ha pe ha pe. Ffff....fffott ffffto in, vvvid vvvi ddd vvviddi ooo," terbata anakku berbisik.
Aku terlongong mendengar suara anakku yang tidak jelas.
Aku tersadar, bukankah ada hp di tas?
Ufff, tanganku sudah meraba raba tapi tak kunjung ketemu jua, ....
"Bismillahhirrohmaan nirrohiim, Tuhaann, aku berlindung kepadaMu dari godaan syaitan yang terkutuk. Tiada daya dan upaya seluruh kekuatan ini hanya bergantung padaMu."
Kubaca kembali ayat kursi, An Nas dengan sepenuh hati.
Aku menangis dalam kepasrahanku.
Tiba tiba......
"Aaaaaaaa....aaaaaa!!! Tap tap tap...gedebug debug bug bug....aaaaaaaaaaaa, ....aaaaaa!!!"
Seperti suara barisan yang bubar, diiringi teriakan kesakitan .....
Lalu hening.
Sroooottttt....sebuah lampu motor dari depan menyinari kami. Motor itu berhenti.
Ahhh, leganya aku ketika tahu siapa yang datang.
Beliau adalah Mandor hutan pinus dan jati yang akan berangkat patroli malam hari.
"Lia, kamu tidak apa apa?, " tanyanya lirih seraya menatap anakku yang pucat
pasi. Lia, anakku tersenyum, lalu berkata,"Saya baik baik saja, Pak."
Pak mandor tersenyum, "Mari kuantar kalian pulang."
Aku yakin Pak Mandor sangat tahu dengan apa yang terjadi di Telaga ini.
Saat motor mulai menderu meninggalkan tempat itu, reflek aku menoleh ke belakang.....
Deg!!!!
Samar tapi pasti kulihat sebuah kepala tanpa rambut, menggelinding ke tengah jalan, dengan mata merah berkilat menatapku tajam diantara gelap gulita nya malam.
The end.
"Bund, hpnya bisa kirim sekarang ya."
"Siap!" jawabku semangat.
Semangatlah, kan dapat duit...he he.
"Deg!!"
Ini sudah maghrib, dan lokasinya betul betul aduhai.
"Kak, gimana nih?"
"Lanjut Mah," jawab anakku.
Kupacu motor, melewati hutan pinus, melewati jembatan *tangis dan kedung/telaga kecil yang katanya angker kalau malam hari.
Beberapa motor msih kujumpai di sepanjang jalan. Jadi aku santai ....
Setelah cod dengan yang pesan hp, aku pun pulang. Kebetulan ada motor yg lewat ke arah yang sama. Tergesa ku ikuti laju motornya, tapi ahhh.....
Kecewaku membuncah.
Di batas perkampungan akhir, motor itu balik arah. Aku termangu.....
"Ma, biar kakak yang nyetir," bisik anakku.
Sekilas cerita tentang jembatan tangis dan telaga itu menyeruak.
"Sering loh, di jembatan itu terdengar tangisan, dan ada perempuan cantik di sana, " kata wali muridku suatu pagi.
"Krossaakkk!!!"
"Ma," ...
"Tetap fokus ke depan Kak," bisikku mulai was was.
Dan, seekor tikus hutan kulihat berlari dari semak belukar, berhenti tepat di tengah jalan raya, dengan mata merah berkilat.
Hingga kami pun lewat, tikus itu tetap tak beranjak. Entahlah itu tikus beneran atau bukan. Aku enggan memikirkannya.
Tibalah di jembatan tangis, kubaca ayat kursi, An-Nas berulang ulang.
Anakku memacu motor dengan kencang, diantara hutan pinus yang gelap gulita. Aku berharap bisa berpapasan dengan motor lain, tapi sia sia.
"Wussss......" sekelebat bayangan lewat.
Aku tak peduli.
"Wuss...wusss...."
Beberapa bayangan melintas dari pohon ke pohon. Aku melirik sekilas. Untunglah anakku tidak menyadarinya, hingga ia fokus ke jalan.
Plong, ...terlewati jembatan tangis.
"Hmm segitu saja, " pikirku dalam diam.
Tapi beberapa menit kemudian adrenalinku berpacu lagi ketika harus melewati telaga kecil yang terletak hampir di ujung hutan pinus.
Lima ratus meter menjelang telaga, kudengar samar suara anak-anak yang bercanda ceria.
"ha ha hi hi hhha hhiii"
"tok tak tok tak tok tak"
Seperti suara bambu yg dipukul pukul.
Suara kecipak air pun terdengar. Bagaimana mungkin di malam gelap begini ada anak-anak bermain di telaga....
"Ma...., motornya melambat sendiri", suara anakku bergetarrr hebat.
"Lampunya mati!!" teriak anakku histeris.
Lidahku kelu, jemariku spt mati rasa....
"Klekk....klekk....klekkk".
"Ma.....mesin motor mati," kata anakku dengan parau.
Aku menelan ludah dengan susah payah.
Kugenggam erat tangan anakku yang dinginnya seperti es. Aku harus kuat demi anakku.....bisikku dalam hati.
"Ma, kita jangan kalah dengan tuyul tuyul itu," bisik anakku dengan suara yang terdengar seperti menangis.
Aku tahu, ia berkata begitu untuk menguatkan hatinya.
Kenyataannya, tubuh kami bergetar hebat, bahkan untuk berbicara saja sulitnya minta ampun.
Sementara itu suara-suara itu makin terdengar jelas, karena lokasi motor berhenti hanya berjarak beberapa meter dari telaga itu.
"Tak tok tak tok tak tok....ting tang tung
Hhha hhhihi....prokk prokkk!!!"
"Ciluuuuukkkk.....bakkk...ahahhha hihhhi"
Mataku berusaha menyibak kegelapan malam, mencoba melihat apa yang terjadi di telaga itu. Tapi hanya gelap dan gelap....
"Mama...ma, ha pe ha pe. Ffff....fffott ffffto in, vvvid vvvi ddd vvviddi ooo," terbata anakku berbisik.
Aku terlongong mendengar suara anakku yang tidak jelas.
Aku tersadar, bukankah ada hp di tas?
Ufff, tanganku sudah meraba raba tapi tak kunjung ketemu jua, ....
"Bismillahhirrohmaan nirrohiim, Tuhaann, aku berlindung kepadaMu dari godaan syaitan yang terkutuk. Tiada daya dan upaya seluruh kekuatan ini hanya bergantung padaMu."
Kubaca kembali ayat kursi, An Nas dengan sepenuh hati.
Aku menangis dalam kepasrahanku.
Tiba tiba......
"Aaaaaaaa....aaaaaa!!! Tap tap tap...gedebug debug bug bug....aaaaaaaaaaaa, ....aaaaaa!!!"
Seperti suara barisan yang bubar, diiringi teriakan kesakitan .....
Lalu hening.
Sroooottttt....sebuah lampu motor dari depan menyinari kami. Motor itu berhenti.
Ahhh, leganya aku ketika tahu siapa yang datang.
Beliau adalah Mandor hutan pinus dan jati yang akan berangkat patroli malam hari.
"Lia, kamu tidak apa apa?, " tanyanya lirih seraya menatap anakku yang pucat
pasi. Lia, anakku tersenyum, lalu berkata,"Saya baik baik saja, Pak."
Pak mandor tersenyum, "Mari kuantar kalian pulang."
Aku yakin Pak Mandor sangat tahu dengan apa yang terjadi di Telaga ini.
Saat motor mulai menderu meninggalkan tempat itu, reflek aku menoleh ke belakang.....
Deg!!!!
Samar tapi pasti kulihat sebuah kepala tanpa rambut, menggelinding ke tengah jalan, dengan mata merah berkilat menatapku tajam diantara gelap gulita nya malam.
The end.
Komentar
Posting Komentar